sabda hati, meraung (lagi).

Sabtu dini, 14 Agustus 2010

Susah tidur. Pikiran ngalor-ngidul. Kesana-kemari, berlari-lari. Tak terbayangkan berapa banyak labirin yang terbentuk akan problematika hati dan intuisi.

#nowplaying Leonardo – Something between my room and yours.

Berenang. Memoria kembali bersua dengan sabda. Sabda implisit yang kemudian hanya hati yang dipaksa untuk mengerti, rumit.

Waktu itu gelap pekat, jemarimu merapat. Hujaman tatapan hangat, kemudian saling memeluk dengan erat.

Matahari mengganas di peraduannya, ia tertawa melihat seisi jagad resah karena gerah. Tanpa getir kita terus menjelajah, tak peduli walau tanpa arah.

Ada pula cerita kala hujan, saling menggenggam – tanpa ragu hujan ditembus dan terus berjalan. Irama langkah kita sama, hanya ukuran dan balutannya yang berbeda.

Lihat! Betapa istimewanya kita, dulu. Seisi alam raya tau, para dewa pun ikut bertanya dengan malu. Kemudian dimana dirimu? Masih ingin tenggelam dalam bisu? Atau masih ingin pura-pura tidak tahu?

Saya iri dengan awan, bintang, matahari, dan pelangi. Langit begitu setia hadir tanpa melihat benda apa yang akan ia temani. Ia sederhana, ia tak memilah, ia tak pernah berubah.

Sederhana. Pinta saya hanya ingin dicintai dengan sederhana. Kemudian perlahan meraih bahagia.

PS: Saya rindu kamu yang dulu. Apa saya masih harus terus menunggu?

Posted in Uncategorized | Leave a comment

koma, belum titik.

Kamis dini hari, 11 Agustus 2010

Bangun pagi tadi letih sekali. Detiknya meraung, saya enggan bangun. Saya lelah. Setelah pertempuran hati penuh amarah. Saya kalah. Atas kebisuannya yang berbekas resah.

Masih Adhitya Sofyan. Ia setia mengudara di telinga di setiap perjalanan pagi saya. Mengawang. Duduk, jemari di atas deretan tuts hitam, mata di depan media berwarna putih. Belaga formal.

Caramel Machiato, menemani meeting pertama hari ini. Adalah Renggo, menghantarkan sebuah kepingan yang tak henti melantun di telinga saya. Lirik, melodi, seakan merasuk dalam guratan keputus-asaan saya.

Pointe Restaurant. Meeting kedua di sebuah sore yang merona. France culinary, entah apa saja menunya, lupa. Ga penting juga sih. Dia Ocha. Orang yang saya temui di tempat itu. Meeting berakhir sempurna dengan mata berkaca-kaca. Mungkin Tuhan mengutus dia untuk menyampaikan pesan-pesan tadi.

“Kamu sudah punya pacar?”

“Ah?.. S..sudah.” – saya berbohong.

Tersayat! Dia bisa membaca problematika hanya dengan memandang bola mata saya. Dikorek. Perih. Semua luka dibuka, Dan mereka semakin nyata. *lukanya. Seakan berkongsi, lagu-lagu di kafe tadi semua lagu yang “punya makna” buat saya.

Close to you – Lagu terakhir yang saya dengar ketika menuju terminal F Soekarno Hatta.

Aaaah, itu 6 bulan yang lalu. Sepeninggal saya dari ibukota, kamu belum bangun, tapi saya udah siap menuju pulau dewata. Ini bulan keenam. Tanpa kontak fisik, tapi rasanya hati menyatu begitu licik. Salah sih. Kamu berkembang terlalu hebat di benak saya. Tanpa jeda.

Huh. Semoga rasa ini cepat mereda.

Ga enak juga menulis dengan otak berceceran.

Selamat hari kedua perpisahan.

PS : hey bulir air dari mata, sukses menjajah pipi (lagi). berhentiiii! Continue reading

Posted in Uncategorized | Leave a comment

on the TOP of desperado,do,do..

Annoying Monday, August 09, 2010
I’m on the top of my patience. I think I need a robot. A robot to say “Hello dear, have a good day” in the morning and “Goodnight dear, sleep tight, I love you” at night. I also would like to set it to say “How I really can’t wait to see you…” and “Good luck for the deadline, you can accomplish it, go!” Is it hard for you to say these things? I just need A LITTLE of your support, get it? I honestly tired to read some apologize for things that you would repeat.

Posted in Uncategorized | Leave a comment